Tuesday, January 1. 2013Selamat Tahun Baru 2013Halo, Rasanya sudah lama sekali saya tidak update blog ini. Bukan karena saya bosan menulis, tapi justru karena saya sedang mengoprek sesuatu yang kelak pasti saya bagikan ilmunya di sini. Tidak terasa kita sudah masuk ke awal tahun lagi. Dan dengan ini saya turut mengucapkan Selamat Tahun Baru 2013. Lalu apa kira-kira yang akan menjadi hal baru di tahun ini? Yang jelas, untuk bidang IT tidak akan pernah ada akhir perkembangan invoasi. Ada beberapa hal yang menurut saya akan menjadi menarik bagi saya pribadi di tahun ini: 1. Personal Cloud. Perkembangan sinkronisasi dan kolaborasi perangkat merupakan penyumbang besar dari perkembangan Personal Cloud. Kita membawa semua dokumen, catatan, lagu, foto, film/klip video dan lain sebagainya ke mana pun kita pergi. Saya tidak khawatir lupa menyalin file presentasi, dokumen maupun foto di perangkat saya ketika saya bepergian, karena dengan layanan semacam Dropbox, saya tinggal menyimpan file tersebut ke sebuah direktori di PC saya yang sudah disinkronisasi ke Dropbox. Dengan otomatis, file-file yang saya simpan tadi akan bisa diakses melalui telepon BlackBerry ataupun Android saya. Saya juga suka menyimpan catatan-catatan kecil ketika di suatu tempat tiba-tiba ide muncul begitu saja. Atau ketika saya mencatat beberapa hal hasil brainstorming dengan kawan-kawan. Evernote akan menyimpan catatan-catatan tersebut ke handset saya, yang secara otomatis akan muncul juga di PC yang berada di rumah yang juga terinstall Evernote. Ini hanya beberapa contoh kecil ketika media cloud sudah memasuki dalam kehidupan pribadi kita masing-masing. Dan tentu saja di kelas korporasi, cloud akan lebih banyak diadopsi untuk peningkatan kinerja dan kolaborasi antar departemen. 2. VoIP Menurut Anthony Cox dari Juniper Research, pada tahun 2017, pengguna VoIP akan mencapai 1 milyar pengguna. Ini merupakan pangsa yang cukup besar. VoIP menjadi salah satu bidang ketertarikan saya, dan saat ini saya sedang membangun sebuah infrastruktur VoIP berbasis cloud bersama dengan rekan-rekan saya. Jika ingin menggunakan momentum hasil prediksi ini, sepertinya sekarang lah waktu yang tepat untuk memulai. Saat ini perkembangan penggunaan VoIP sudah mulai meluas. Yang cukup menarik saya adalah apa yang telah dilakukan Rebtel, sebuah penyelanggara layanan VoIP terbesar setelah Skype, yang membuka peluang para developer dengan merilis Free SDK toolkit untuk mengintegrasikan applikasi Android maupun iOS ke layer VoIP mereka. Pengembang aplikasi game, misalnya, bisa memasukkan layer VoIP ini sehingga memungkinkan gamer berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam sebuah sesi gaming. Atau pengguna social media bisa juga memanfaatkan VoIP ini untuk berkomunikasi dengan kawan-kawannya, dan seterusnya. Saya juga kelak berminat dengan Smart TV yang sudah Skype enabled. Jika kelak LTE sudah benar-benar dideploy oleh operator di Indonesia, komunikasi VoIP melalui aplikasi-aplikasi di atas akan menjadi sangat mudah. Mari kita berdoa saja. Layanan lain yang menarik buat saya adalah penyelanggaraan hosted PBX. Tidak semua perusahaan akan membutuhkan jaringan telepon intra, apalagi jika perusahaan tersebut memiliki kantor yang tersebar dan hanya memiliki 2 atau 3 pegawai saja di masing-masing lokasi. Perusahaan semacam ini sudah banyak. Mereka lebih mengutamakan efisiensi kinerja dan budget. Telepon merupakan salah satu komponen yang tidak bisa lepas dari efisiensi komunikasi. Internet juga sudah menjadi komponen wajib bagi penyelenggaraan perusahaan. Dari tahun ke tahun, harga akses internet semakin murah, selain karena memang basis penggunanya yang sudak membludak, persaingan antar ISP pun cukup berdarah-darah. Ketika akses internet murah, jadi kenapa tidak menggunakan layanan hosted PBX? Untuk telepon offnet ke PSTN bahkan bisa dikontrol dengan efektif, karena dimungkinkan semua akses ke PSTN seluruh cabang, terpusat hanya di satu tempat. Dan banyak sekali yang bisa saya bahas mengenai hal-hal yang menarik di dunia VoIP. Ini hanya sekedar sedikit contoh saja. 3. IPv6 Dengan makin banyaknya device yang tersambung ke internet, penggunaan ip address IPv4 semakin lama semakin menipis. Pada tanggal 8 Juni 2011 yang lalu, sebuah event yang disebut World IPv6 day. Acara ini adalah acara trial global penggunaan IPv6 yang diikuti antara lain oleh Facebook, Akamai, Google, Yahoo!, dan Limelight Networks. Tujuannya untuk menunjukkan pada dunia bahwa IPv6 siap diadopsi dan dijalankan. Event ini kembali digelar pada tanggal 6 Juni 2012. Kali ini mengajak lebih banyak lagi peserta dari kalangan ISP, home networking manufacturer, dan perusahaan web seluruh dunia untuk mengaktifkan IPv6 secara permanen. Jadi, mau tidak mau, IPv6 akan menjadi "santapan" sehari-hari bagi rekan-rekan penyelanggara jaringan. IPv6 ini memungkinkan setiap device yang tersambung ke internet dengan ip address public, sehingga komunikasi peer-to-peer sudah bukan kendala lagi seperti ketika di jaringan IPv4. Dan ketika komunikasi peer-to-peer ini dimungkinkan, kita bisa mengharapkan lebih banyak inovasi-inovasi kejutan di masa yang akan datang.
Thursday, May 17. 2012[TIPS] Problem pkisilent Pada Instalasi FreeIPA ServerBeberapa kali saya menemukan problem instalasi FreeIPA server yang hampir serupa. Ternyata problemnya ada di pkisilent, yang selengkapnya bisa dibaca di beberapa link referensi yang saya cantumkan pada bagian akhir. Error yang muncul seperti ini: ########################################################################################################## .... Configuring directory server for the CA: Estimated time 30 seconds Configuration of CA failed ########################################################################################################## Sedangkan jika kita check di dalam file /var/log/ipaserver-install.log muncul pesan seperti: ########################################################################################################## ... 2012-05-17 16:35:34,073 DEBUG duration: 3 seconds ####################################################################### ####################################################################### 2012-05-17 16:35:34,227 DEBUG stderr=Exception in thread "main" java.lang.NoClassDefFoundError: 'ConfigureCA' 2012-05-17 16:35:34,227 CRITICAL failed to configure ca instance Command '/usr/bin/perl /usr/bin/pkisilent 'ConfigureCA' '-cs_hostname' '389ds.linux.jc' '-cs_port' '9445' '-client_certdb_dir' '/tmp/tmp-LPWTqp' '-client_certdb_pwd' XXXXXXXX '-preop_pin' 'GWxPSve53pUveFqn73uf' '-domain_name' 'IPA' '-admin_user' 'admin' '-admin_email' 'root@localhost' '-admin_password' XXXXXXXX '-agent_name' 'ipa-ca-agent' '-agent_key_size' '2048' '-agent_key_type' 'rsa' '-agent_cert_subject' 'CN=ipa-ca-agent,O=LINUX.JC' '-ldap_host' '389ds.linux.jc' '-ldap_port' '7389' '-bind_dn' 'cn=Directory Manager' '-bind_password' XXXXXXXX '-base_dn' 'o=ipaca' '-db_name' 'ipaca' '-key_size' '2048' '-key_type' 'rsa' '-key_algorithm' 'SHA256withRSA' '-save_p12' 'true' '-backup_pwd' XXXXXXXX '-subsystem_name' 'pki-cad' '-token_name' 'internal' '-ca_subsystem_cert_subject_name' 'CN=CA Subsystem,O=LINUX.JC' '-ca_ocsp_cert_subject_name' 'CN=OCSP Subsystem,O=LINUX.JC' '-ca_server_cert_subject_name' 'CN=389ds.linux.jc,O=LINUX.JC' '-ca_audit_signing_cert_subject_name' 'CN=CA Audit,O=LINUX.JC' '-ca_sign_cert_subject_name' 'CN=Certificate Authority,O=LINUX.JC' '-external' 'false' '-clone' 'false'' returned non-zero exit status 255 File "/usr/sbin/ipa-server-install", line 974, in main File "/usr/lib/python2.7/site-packages/ipaserver/install/cainstance.py", line 537, in configure_instance File "/usr/lib/python2.7/site-packages/ipaserver/install/service.py", line 248, in start_creation raise RuntimeError('Configuration of CA failed') ########################################################################################################## Untuk melakukan workaround, kita harus melakukan patch pada file /usr/lib/python2.7/site-packages/ipaserver/install/cainstance.py. File patch bisa didownload di https://fedorahosted.org/freeipa/attachment/ticket/2529/freeipa-rcrit-985-shellescape.patch , atau kita edit sendiri file tersebut dengan menambahkan comment sign ('#') atau menghilangkan baris: args[2:] = [ipautil.shell_quote(i) for i in args[2:]]
root# patch -p1 /usr/lib/python2.7/site-packages/ipaserver/install/cainstance.py < /path/ke/file/freeipa-rcrit-985-shellescape.patch Setelah itu uninstall terlebih dahulu setup FreeIPA server sebelumnya dengan: ipa-server-install --uninstall , lalu jalankan setup lagi dengan: ipa-server-install.
Referensi:
Tuesday, April 17. 2012[TIPS] Error "default password storage scheme SSHA" di FreeIPA ServerSuatu ketika saya tidak sengaja shutdown paksa server FreeIPA saya, sehingga ketika server tersebut dipower-on, ipa.service tidak mau up. Setelah diperiksa log di /var/log/messages muncul pesan gagal seperti:
Untuk merestore kembali file tersebut, kita bisa menyalin dari file .bak yang ada pada direktori yang sama. Bisa kita check terlebih dahulu dengan perintah: locate dse.ldif yang kemudian muncul output:
Salin semua file .bak ke nama file asli di direktori yang sama:
Setelah itu restart semua service yang berhubungan dengan FreeIPA server:
Tuesday, March 27. 2012[tips] merapikan file text dengan sedKarena harus mengaudit file konfigurasi sebuah sistem (dalam hal ini Nagios), tiba-tiba harus merapikan file supaya tidak bingung membaca file config-nya. Kalau kita pernah mengkonfigurasi Nagios, biasanya kita mendapati file nagios.cfg terdapat banyak sekali file yang di-comment untuk memberikan keterangan sebuah baris konfigurasi atau sekedar mendisable sebuah opsi konfigiurasi (silahkan lihat file nagios.cfg). Karena kebanyakan baris-baris seperti ini tidak saya butuhkan, saya perlu meremove semua baris yang berawalan tanda comment (biasanya diawali dengan tanda '#') dari file nagios.cfg. Sebelum melakukan ini, saya menyalin file asli ke file dengan nama lain (misal nagios.cfg.original), untuk jaga-jaga jika saya tidak sengaja merusak file konfig, sehingga saya masih punya backup. Untuk proses menghilangkan baris yang saya maksud di atas, perintahnya adalah (semua menggunakan sudo):
Perintah di atas akan menghilangkan semua baris yang diawali dengan tanda '#' dan menyalinnya ke file nagios.cfg.temp. Kenapa harus ke nama file yang berbeda? Karena juga langsung diwrite di file nagios.cfg maka kita akan mendapati hasil filenya kosong. Pada file nagios.cfg.temp jika kita lihat maka semua baris yang berawalan tanda comment ('#') sudah dihilangkan, tetapi masih ada yang mengganjal karena masih banyak space kosong di sana sini. Untuk menghilangkan space kosong tersebut caranya: Di sini output filenya sengaja saya langsungkan ke file nagios.cfg lagi karena saya yakin hasilnya sudah benar. Jika kita tidak yakin akan hasilnya, bisa diredirect ke nama file yang berbeda lagi, misall nagios.cfg.temp2. Setelah dicheck isi file tersebut benar, baru direname menjadi nagios.cfg. Monday, March 26. 2012[TIPS] Mematikan Biosdevname di Fedora 16Pada saat awal instalasi Fedora 16, saya mendapat nama interface-nya berbeda dengan biasanya. Kalo biasanya saya menjalankan ifconfig akan mendapati semacam eth0, eth1, eth2, eth0:2, eth2:4, sit0, dst, kali ini yang muncul adalah p3p1. WTF?
Ternyata nama interface tersebut muncul dari penamaan BIOS. Untuk mendisable penamaan dari BIOS, cukup ditambahkan opsi biosdevname=0 di dalam file /etc/grub2.conf. Edit file sehingga nampak seperti:
Setelah itu restart/reboot, dan saya mendapati nama interface eth0. Friday, March 23. 2012Setup Manajemen ID dengan FreeIPA Server/Client (Tulisan 1)Kali ini dapat PR membuat sebuah sistem untuk mengatur privilege ke resource jaringan secara terpusat. Kenapa? Begini ceritanya. Sebelumnya saya pernah bekerja di sebuah ISP dengan jangkauan layanan yang mencakup area cukup luwas (Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Irian, dst). Dengan jumlah POP (Point of Presence) yang cukup banyak, maka perangkat yang dimiliki di daerah-daerah tersebut juga cukup banyak. Untuk bisa menghandle administrasi perangkat, masing-masing teknisi di daerah memiliki akses ke perangkat-perangkat tersebut. Akses yang didapat adalah shared account. Semua login dan password dibuat dengan pola yang hampir sama untuk memudahkan akses. Masalahnya, karena ini perusahaan cukup besar, maka frekuensi karyawan yang masuk dan resign pun cukup besar. Sehingga untuk blocking karyawan yang sudah resign ke resource jaringan juga akan sulit, dikarenakan shared access itu tadi. Contoh kasus lain adalah pada sebuah perusahaan yang memiliki cukup banyak server *Nix dan juga cukup banyak teknisi support. Jika di dalam skema perusahaan seperti ini masih menggunakan shared account, maka akan rentan sekali terhadap penyusupan, bukan hanya dari karyawan yang sudah resign, bahkan juga dari internal sendiri. Lalu idenya adalah, setiap karyawan diberikan privilege account khusus bagi dirinya sendiri. Credential account karyawan yang satu dengan yang lain dibuat berbeda, supaya karyawan A tidak bisa menggunakan accoun karyawan B, begitu juga sebaliknya. JIka kelak karyawan A atau karyawan B sudah tidak bekerja di perusahaan tersebut, maka administrator cukup menghapus informasi account karyawan yang bersangkutan sehingga akses ke resource jaringan perusahaan tersebut tidak bisa dilakukan lagi. LDAP (Lightweight Directory Access Protocol)Kandidat protokol yang kemudian muncul adalah LDAP. Sedangkan distro yang paling cepat bisa kita temukan adalah Microsoft Active Directory (AD). AD cukup powerful, dan mudah sekali memanage-nya. Untuk perusahaan-perusahaan yang minim support IT dan ingin menjalankan manajemen account, AD sepertinya menjadi solusi paling gampang. Banyak sekali software jaringan dan perangkat yang sudah support authentikasi via AD. Hanya saja yaaaa... berbayar. Kandidat lainnya adalah OpenLDAP, software opensource yang pada umumnya berjalan di *Nix (rekomendasi di Linux). Agak ribet dalam instalasinya, tapi sudah bisa mendekati AD, walaupun tidak se-powerful AD. Untuk yang ingin belajar bagaimana protokol dan cara kerja LDAP, sebaiknya memulai dari OpenLDAP ini terlebih dahulu, baru nanti berikutnya mencoba sendiri AD.
FreeIPA (IPA - Identity, Policy, Audit)Sekedar kopi paste dari Wikipedia, FreeIPA adalah project yang disponsori oleh RedHat untuk membuat sistem pengaturan single sign-on dan kemudahan pengaturan identitas dan policy yang berjalan di atas OS Linux. Intinya paket ini akan menyerupai Novell's Identity dan Microsoft Active Directory. Perbedaannya adalah, FreeIPA ini bahkan bisa mengatur privilege user dalam sebuah sistem melalui sudo. Pada dasarnya FreeIPA ini adalah identity management, sehingga sebuah server Linux bisa menjadi identity/authentication domain. Untuk keterangan lebih detail mengenai FreeIPA, silahkan baca di https://docs.fedoraproject.org/en-US/Fedora/15/html/FreeIPA_Guide/index.html. Tulisan kali ini hanya membahas cara instalasi dan contoh penggunaan sederhana. FreeIPA saat ini (terutama per tanggal tulisan ini) hanya bisa diinstall di Fedora. Sedangkan client yang support FreeIPA adalah OS RedHat Enterprise, Fedora, Solaris, AIX, HP-UX, Mac OS X, dan MS-Windows. Pada setup berikut ini server FreeIPA yang digunakan adalah Fedora 16, dan untuk client yang akan dicoba adalah CentOS 6 (CentOS termasuk varian dari RedHat, jadi sudah support untuk FreeIPA client, tetapi tidak bisa disetup sebagai FreeIPA server). Idealnya, jaringan tersebut bisa bekerja dengan topologi seperti berikut ini: ![]() Semua server (print server, database server, file server, mail server dan NFS server) disetup sebagai FreeIPA client. DNS server digunakan untuk mempermudah pencarian FreeIPA server dan FreeIPA client dalam jaringan. NFS server digunakan untuk mensikronisasi home directory user ke semua server, sehingga mempermudah penambahan dan penghapusan user (otomatis akan menambah dan menghapus homedir juga). Secara fisik, fungsi NFS server ini bisa di mana saja, tidak harus sebuah NFS standalone. Topologi ini bertujuan untuk mempermudah administrasi dan manajemen server. Semua entiti dalam jaringan ini juga tidak harus terpisah secara fisik. Bahkan semuanya bisa dijadikan satu, kecuali FreeIPA server-nya. INSTALASI/SETUPUntuk contoh instalasi dan setup kali ini, saya akan menggunakan topologi yang paling sederhana, yaitu dengan satu FreeIPA server (Fedora core 16), dan sebuah FreeIPA client (CentOS 6). ![]() Oh ya, sebelumnya saya mengasumsikan bahwa kita akan melakukan semua kegiatan ini via ssh dari sebuah workstation Windows (saya menggunakan Windows 7). Hal ini penting saya sebutkan, karena untuk mengakses Web GUI FreeIPA server, akan menjadi sedikit berbeda dari OS Windows. Nanti akan saya bahas ketika sudah selesai instalasi. Untuk setup OS Fedora dan CentOS tidak akan dibahas di sini, saya mengasumsikan sudah ada dua server yang siap sesuai dengan kebutuhan di atas. Jika kita kesulian menyiapka ke-2 server tersebut, kita bisa menggunakan VMWare untuk percobaan ini. Asal tidak untuk sistem produksi, VMWare bajakan sudah lebih dari cukup. Hehehehe... FreeIPA Server SetupContinue reading "Setup Manajemen ID dengan FreeIPA Server/Client (Tulisan 1)" Friday, March 2. 2012[tips] mengakali "Error code: sec_error_reused_issuer_and_serial"Kalo kita sering bermain SSL certificate, sampe numpuk-numpuk create-nya, ada kemungkinan kita akan mendapatkan error semacam ini. Kalau kasus saya pada saat menginstal aplikasi IPA (Identity, Policy, Audit), baik di rumah maupun di kantor dengan menggunakan browser yang sama (Firefox).
Ah iya, saya lupa menyebutkan bahwa error yang saya dapatkan ini dari browser Firefox di Win 7. Setelah browsing ke sana ke mari akhirnya saya mendapati bahwa saya hanya harus men-delete file cert8.db yang berlokasi di C:\Users\<user win 7>\AppData\Roaming\Mozilla\Firefox\Profiles\trmzzmkd.default\ setelah itu tinggal restart Firefox dan error di atas hilang. Bukan cara elegan sih, tapi.. ya gitu deh...it works. :P
(Page 1 of 40, totaling 277 entries)
» next page
|
QuicksearchCategories |